KETIKA JENAZAH BERBICARA

Sumy Hastry Purwanti (Hastry) merupakan polwan jenderal yang cukup populer di bidang forensik. Tugasnya ‘unik’. Ia bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri menjadi harapan keluarga korban agar segera bisa mengidentifikasi sanak-saudara mereka yang tewas atau menjadi korban bencana, kecelakaan, atau tindak pidana.

Hastry mulai terlibat di DVI ketika ikut menangani korban Bom Bali I (2002) yang menewaskan 202 orang. Saat itu, Polri masih dalam tahap awal pengembangan DVI. Kedatangan ahli DVI dari Australia dan sejumlah negara lain yang membantu proses identifikasi korban, juga berperan besar membangun pengetahuan dan pengalaman ahli forensik dan DVI Polri. Pengembangan itu diikuti dengan program pendidikan dan pelatihan DVI dan forensik.

Hastry mendapat kesempatan mengikuti program Post Graduate Training - Course Forensic Medicine yang diselenggarakan oleh Groningen University, Belanda, yang bekerja sama dengan Polri. Setelah itu ia mengikuti beberapa pelatihan, seperti DVI Course AFP (Australian Federal Police) pada 2006, DNA Course di Malaysia (2007), workshop forensik di New Delhi, India (2010) dan Chicago, AS (2011), Post Blast Course di Perth, Australia, tahun 2011, Workshop Forensic Scientist yang diselenggarakan di Malaysia (2012) dan Den Haag, Belanda (2012), dan lain-lain.

Di tengah kesibukan sebagai perwira di Polda Jawa Tengah, ia diminta Mabes Polri untuk ikut menangani identifikasi korban dari berbagai kasus seperti Bom Marriott (2003 dan 2005), Bom Kedubes Australia (2004), Bom Bali II (2005), jatuhnya pesawat Mandala di Medan (2005), kecelakaan pesawat Garuda di Yogyakarta (2007), jatuhnya pesawat Cassa di Bogor (2009), Hercules (2009), Sukhoi (2012), Air Asia (2015), Lion Air (2018), dan Sriwijaya Air (2019). Ia juga menangani identifikasi korban gempa bumi Yogyakarta (2006), tsunami Pangandaran (2006), gempa bumi di Padang (2009), letusan Gunung Merapi (2010), dan gempa bumi di Palu (2018). Tidak hanya di Tanah Air, ia juga ikut ditugaskan untuk identifikasi korban kebakaran hutan di Australia pada tahun 2009 dan korban jatuhnya pesawat Malaysia Air yang identifikasinya dilakukan di Belanda (2014).

Buku ini merupakan buku memoar Hastry yang cukup menarik. Ditulis dengan gaya populer, simpel, dan mudah dicerna. Mengikuti perjalanan profesional Sumy Hastry Purwanti di buku ini, seolah-olah menelusuri perkembangan ilmu forensik dan DVI di Indonesia. Banyak ilmu, inspirasi, dan kisah unik yang tersaji di dalamnya.

Detail Buku

IDR 0,00

  • ISBN :
  • Jumlah Halaman :
    436 Halaman
  • Tahun Terbit :
    2026

Tentang Penulis

BJP Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, DFM, Sp.F.